11 Apr 2011

Hilang Sudah Karakter Bangsaku

Pernahkah kita dengar kata “Merdeka!” beberapa tahun belakangan ini? Adakah orang yang selalu dengan bersemangat untuk melaksanakan Upacara Bendera? Pernahkah Petani, Pedagang, Pemulung, Mahasiswa, dll ikut serta dalam Upacara-upacara kenegaraan?

Penulis acap kali melantangkan “Merdeka!” pada kegiatan-kegiatan tertentu di Kepramukaan dan di kegiatan-kegiatan lain, namun respon pendengar sangat beraneka ragam. Ada celoteh ringan yang menganggap bahwa penulis sedang terjebak dengan masa lalu bangsa Indonesia, terlalu terbawa dengan kekejaman penjajah  dan tidak dapat menyesuaikan dengan kemajuan zaman, bahkan penulis pernah dibilang GILA oleh anak siswa Sekolah Dasar, tapi penulis menyadari bahwa usia anak SD belum cukup untuk tahu akan pentingnya bela negara. Dalam semboyan Merdeka terdapat nilai-nilai semangat patriotisme yang sudah sangat lama tidak terdengar lagi di telinga kita dan tidak terlihat oleh mata kita. Yang ada hanya semangat egoisme dan individualisme yang selalu muncul untuk kepentingan pribadi. Lalu, apakah Negara Indonesia dapat bertahan kokoh jika dinding-dinding yang berbahan patriotisme mulai lapuk dimakan zaman? Siapa yang akan membela negeri ini kalau kata Merdeka sudah terasa kaku untuk diucapkan? Kenapa kita masih juga belum bisa belajar dari Negara Jepang yang selalu mengimbangi kemajuan teknologi dengan kesederhanaan?

Sisa-sisa bibit pengabdi masih ada di sana-sini yang akhirnya menjadi golongan  minoritas yang sering kali gagasan-gagasan gila-nya benar-benar dianggap gila oleh masyarakat. Pelajaran-pelajaran di sekolah hanya terpaku pada ilmu yang bersifat menguntungkan untuk masa depan, bukan terpaku pada moral dan watak siswanya, bagaimana sifat-sifat positif berbangsa dan bernegara dapat muncul jika kondisi seperti ini tetap dipertahankan?

Harusnya, sikap Patriotisme itu ada di setiap jiwa bangsa Indonesia, tidak hanya pada TNI & POLRI saja yang notabene itu adalah sudah menjadi tugas mereka. Lalu dari mana kita harus memulainya, sedangkan sekolah pun sudah tak mampu untuk mencetak siswa yang berwatak, mental dan moral yang kokoh? 

Mari kita abdikan diri benar-benar untuk bangsa dan Negara, tidak peduli seperti apa bentuknya. Asalkan itu baik dan bermanfaat untuk orang lain, lakukan! Latih anak-anak kita untuk selalu bersikap jujur dan sopan dalam pergaulan, jadikan anak-anak kita bibit-bibit unggul yang anti korupsi di masa yang akan datang. Jadikan anak-anak kita rela mati untuk kemerdekaan. Mari kita mulai dari kita sendiri.

Penulis mengutarakan maksud hati ini sesuai dengan keadaan di tempat penulis tinggal, segala daya dan upaya tengah penulis kerahkan, walau usia masih terlalu muda dan dukungan yang muncul hanya perkataan saja.

Dari tanahmu kami mengabdi padamu Ibu Pertiwi. Salam Pramuka!!!


Pramuka Indonesia

2 komentar:

FootNote mengatakan...

Memang begitulah keadaan negara kita, jika dibilang rasa pengabdian bangsa itu ada karena mereka ada maunya entah itu kedudukan atau pun harta, rasa nasionalisme itu sendiri sudah hampir punah, apa kata dunia jika rasa nasionalisme masyarkat sudah hilang terhadap negaranya!

sablon.kaos.spanduk.purbolinggo mengatakan...

Salam pramuka, mereka tidak bisa di salahkan, kalau dulu memang atmosfernya memang masih dalam suasana memperjuangkan kemerdekaan, sedangkan kini sudah lain suasananya. Mereka tidak ikut upacara karena memang mereka tidak di undang, coba kalo diundang ya dateng, he....he.... "Merdeka!!!!!"

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan jejakmu

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cna certification